Ketika Diam Bukan Lagi Netral: Seruan Moral Menegakkan Keadilan di Tengah Ketimpangan

KALTARA, TeropongKaltara.com — Suara keadilan sering kali tenggelam di tengah hiruk-pikuk kekuasaan. Namun, keberanian untuk menyuarakan kebenaran harus terus digaungkan.

Keadilan sejatinya menjadi fondasi yang menjaga keseimbangan kehidupan manusia. Namun, dalam realitas sosial hari ini, nilai itu kerap terinjak oleh kekuasaan, sementara suara kebenaran justru diredam.

Di tengah situasi seperti itu, diam tidak lagi bisa disebut netral. Sebab, diam berarti memberi ruang bagi ketidakadilan untuk terus berakar.

Banyak orang memilih bungkam dengan alasan menjaga diri, menghindari konflik, atau merasa tak memiliki kekuatan untuk melawan. Namun, kebisuan itu justru memperkuat posisi penindas.

“Penindasan hanya bisa hidup kalau orang-orang baik memilih menutup mata,” ujar SN. Montonglayuk, S.H., M.H., yang juga dikenal sebagai pemerhati sosial di Kalimantan Utara, Jumat (2/10/2025).

Ia menegaskan, penindas tidak hanya bertahan karena kekuatannya, tetapi juga karena diamnya mereka yang tahu kebenaran. Dalam konteks ini, diam menjadi bentuk persetujuan terselubung.

“Kalau kita tahu ada ketidakadilan tapi memilih tidak bersuara, sama saja kita menempatkan diri di sisi yang salah dalam sejarah,” tegasnya.

Keberanian untuk bersuara, lanjut Montonglayuk, memang tidak mudah. Risiko sosial, tekanan, bahkan ancaman kerap membayangi. Namun, sejarah membuktikan: perubahan besar selalu dimulai dari keberanian menolak tunduk pada ketidakbenaran — dari tindakan kecil, kata-kata jujur, hingga sikap tegas menegakkan nilai kemanusiaan.

Menurutnya, keadilan tidak hanya hidup di ruang pengadilan. Ia hadir dalam kehidupan sehari-hari — dalam cara kita memperlakukan sesama, bersikap terhadap yang lemah, dan berpihak kepada mereka yang dizalimi.

“Membela keadilan tidak harus menunggu kita terdampak langsung. Karena ketidakadilan yang dibiarkan hari ini bisa menimpa kita esok,” tuturnya.

Dalam suasana sosial Kalimantan Utara yang tengah tumbuh pesat — baik secara ekonomi maupun politik — suara-suara moral seperti ini menjadi penting. Ia mengingatkan, pembangunan tanpa keadilan ibarat rumah tanpa pondasi: cepat roboh ketika diterpa badai.

“Masyarakat Kaltara butuh lebih dari sekadar orang baik. Kita butuh orang baik yang berani,” ujarnya menutup.
“Karena hanya dengan keberanian bersuara dan bertindak, keadilan bisa ditegakkan dan martabat manusia dijaga.”

Catatan Redaksi:Tulisan ini merupakan refleksi sosial yang menggugah kesadaran kolektif tentang pentingnya keberanian moral dalam memperjuangkan keadilan di tengah dinamika kehidupan sosial masyarakat saat ini.

Wartawan: Selamata.AL


Eksplorasi konten lain dari

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan BalasanBatalkan balasan

Eksplorasi konten lain dari

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca