Malinau – Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW tahun 2025 di Kabupaten Malinau menjadi momentum bersejarah. Untuk pertama kalinya, peringatan kelahiran Nabi bertepatan dengan malam Jumat, hari yang dimuliakan dalam ajaran Islam. Acara ini berlangsung khidmat di Masjid Nurul Iman, Desa Tanjung Lapang, Kecamatan Malinau Barat, Kabupaten Malinau, Provinsi Kalimantan Utara.
Penceramah utama yang dihadirkan adalah Habib Ali bin Hasan Bi Faqih, ulama asal Yaman. Meski tidak menggunakan bahasa Indonesia, ceramah beliau dapat dipahami jamaah melalui penerjemah, yakni Habib Muhammad bin Umar Al-Hadad dari Bondowoso.
Acara ini turut dihadiri oleh Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesra Kabupaten Malinau, Drs. H. Kamran Daik, M.Si, bersama Ustaz Zakaria M. Toba, pengasuh Pondok Pesantren Al-Khairat, serta tokoh agama dan masyarakat muslim Desa Tanjung Lapang. Kehadiran pemerintah daerah memberi dukungan sekaligus apresiasi atas terselenggaranya peringatan keagamaan ini.

Sejarah Maulid dalam Tradisi Islam
Dalam tradisi Islam, peringatan Maulid Nabi SAW memiliki akar sejarah panjang. Rasulullah lahir pada 12 Rabiul Awal tahun Gajah, sebuah peristiwa yang membawa cahaya bagi peradaban manusia. Pada masa awal Islam, para sahabat dan tabiin memperingati hari kelahiran Nabi dengan memperbanyak doa, syukur, serta menceritakan kisah perjuangan beliau.
Seiring perjalanan waktu, tradisi Maulid mulai diselenggarakan secara besar-besaran pada era Dinasti Ayyubiyah di Mesir sekitar abad ke-12 M. Sejak itu, peringatan Maulid menyebar ke berbagai negeri muslim, termasuk ke Nusantara. Di Indonesia, Maulid menjadi salah satu momentum penting dalam kalender keagamaan, yang diperingati dengan pembacaan shalawat, doa bersama, tausiah, hingga tradisi budaya lokal.
Pesan Spiritualitas
Dalam ceramahnya, Habib Ali bin Hasan Bi Faqih menegaskan bahwa kelahiran Nabi Muhammad SAW merupakan nikmat terbesar yang patut disyukuri oleh umat Islam. “Rasulullah adalah rahmat bagi seluruh alam. Memperingati kelahirannya berarti memperbarui cinta dan ketaatan kepada beliau,” ungkapnya melalui penerjemah.
Peringatan Maulid Nabi di Malinau ini menjadi pengingat bahwa perayaan tersebut bukan sekadar tradisi, melainkan bagian dari upaya menumbuhkan kesadaran spiritual, meneladani perjuangan Nabi, serta memperkuat keimanan umat Islam di tengah tantangan zaman.*
Wartawan: Selamat.AL Editor: Suryo
Eksplorasi konten lain dari
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.